Beranda / Pasar Saham & Investasi / Waspadai Bayang-Bayang Bubble di Saham Data Center Indonesia

Waspadai Bayang-Bayang Bubble di Saham Data Center Indonesia

Waspadai Bayang-Bayang Bubble di Saham Data Center Indonesia

Valuasi Ekstrem di Tengah Perlombaan Infrastruktur Digital

Bisnis pusat data di Indonesia sedang mengalami fase keemasan. Permintaan kapasitas penyimpanan dan pemrosesan data meledak seiring akselerasi digitalisasi, cloud computing, dan kecerdasan buatan. Namun, di balik gemerlap pertumbuhan tersebut, muncul sinyal peringatan yang tidak bisa diabaikan: valuasi sejumlah emiten data center telah mencapai level yang mengkhawatirkan.

Angka yang Menuntut Kehati-hatian

Saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) tercatat memiliki Price to Earning Ratio (PER) 328,01 kali dan Price to Book Value (PBV) 101,43 kali. Sementara itu, PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) memiliki PER negatif 1.002,69 kali dan PBV 249,76 kali. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa saham data center mendapatkan valuasi premium karena investor tidak semata-mata menilai kinerja keuangan saat ini, melainkan juga melakukan pricing-in terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang industri.

Faktor kelangkaan emiten dengan eksposur langsung terhadap bisnis data center di BEI turut mendorong valuation premium ini. Namun, Nafan mengingatkan bahwa valuasi ekstrem seperti PER ratusan kali tetap mengandung risiko overvaluation dan potensi terbentuknya bubble apabila ekspektasi pertumbuhan sudah terlalu jauh meninggalkan fundamental.

Pelajaran dari GOTO: Ketika Likuiditas Menjadi Bumerang

Kasus GOTO memberikan gambaran nyata bagaimana faktor non-fundamental dapat menghancurkan kinerja saham. MSCI memutuskan untuk mengeluarkan GOTO dari MSCI Global Standard Indexes pada evaluasi Agustus 2026 karena likuiditas yang tidak memadai. Rendahnya likuiditas saham GOTO berpotensi menyulitkan investor dalam mereplikasi kinerja indeks.

Ironisnya, keputusan ini terjadi justru ketika GOTO menunjukkan perbaikan fundamental. Perseroan membukukan laba bersih Rp 252 miliar pada kuartal II-2026, dengan EBITDA disesuaikan Grup mencapai Rp 1,0 triliun, melonjak 137 persen year-on-year. Kas dan setara kas GoTo tercatat Rp 23,46 triliun per 30 Juni 2026, naik 7,8 persen dari posisi akhir 2025.

Risiko Oversupply Infrastruktur AI

Selain risiko valuasi, potensi oversupply infrastruktur AI menjadi ancaman serius. Platform infrastruktur AI baru PT Indosat Tbk (ISAT) dinilai berpotensi mendongkrak laba, namun risiko kelebihan kapasitas atau oversupply semakin perlu diperhatikan. JPMorgan melihat risiko jika tingkat utilisasi rendah atau harga mengalami tekanan, yang dapat berujung pada penurunan nilai bagi pemegang saham.

Transmisi Dampak ke Pasar yang Lebih Luas

Apabila terjadi koreksi pada saham data center, Nafan memperkirakan dampak awal paling terasa pada emiten dengan valuasi tertinggi dan free float memadai. Jika koreksi meluas, sentimen tersebut dapat menekan IHSG melalui transmisi wealth effect, penurunan risk appetite, aksi profit taking, serta perpindahan dana investor dari saham teknologi ke sektor yang memiliki valuasi lebih defensif.

Guru Besar FEB UI, Budi Frensidy, mencatat bahwa DCII memiliki 9 data center dengan kapasitas shell 132 MW dan potensi pengembangan lebih dari 2.000 MW. Namun pada PER ratusan kali dan PBV di atas 100 kali, sebagian besar pertumbuhan bertahun-tahun ke depan sudah masuk ke dalam harga. Kondisi ini menciptakan risiko bubble yang tetap ada apabila realisasi pertumbuhan tidak sesuai ekspektasi pasar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *