Beranda / Perusahaan & Organisasi / Terapi Regeneratif dan Sel Punca: Babak Baru Pengobatan Presisi di Indonesia

Terapi Regeneratif dan Sel Punca: Babak Baru Pengobatan Presisi di Indonesia

Terapi Regeneratif dan Sel Punca: Babak Baru Pengobatan Presisi di Indonesia

Era Baru Kedokteran Regeneratif

Indonesia tengah memasuki era baru dalam dunia kedokteran regeneratif. Terapi berbasis sel dan gen, atau yang dikenal sebagai Advanced Therapy Medicinal Products (ATMP), diproyeksikan menjadi salah satu pilar utama layanan kesehatan masa depan. Nilai pasar industri ATMP global diperkirakan meningkat lebih dari dua kali lipat, dari USD 41,46 miliar (sekitar Rp697,73 triliun) pada 2026 menjadi USD 86,76 miliar (sekitar Rp1.460 triliun) pada 2031.

Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi. “Kita harus menjadi bagian dari negara yang menciptakan inovasi terapi regeneratif yang aman, bermutu, dan dapat diakses masyarakat,” ujarnya dalam forum The 1st Asia Pacific Regenerative Medicine Congress (APREMIC) 2026 di Jakarta. Saat ini, secara global terdapat 4.164 produk terapi gen, terapi sel, dan terapi berbasis RNA yang tengah dikembangkan, dengan 148 produk telah memperoleh persetujuan di berbagai negara.

Kimia Farma dan StemXera: Dari Riset ke Hilirisasi

PT Kimia Farma (Persero) Tbk mengambil langkah konkret dengan memperluas edukasi terapi sel punca serta mendorong studi multisenter untuk memperkuat bukti medis dalam pemanfaatan klinis terapi regeneratif. Perusahaan mencatat pengembangan produk tersebut telah berlangsung sejak 2013, sedangkan StemXera secara resmi diluncurkan pada April 2026.

Langkah ini sejalan dengan kebutuhan akan bukti klinis yang kuat. Banyak terapi inovatif masih menghadapi keterbatasan bukti ilmiah, standardisasi dosis, konsistensi proses produksi, hingga pengawasan keamanan jangka panjang setelah digunakan masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan multisenter menjadi krusial untuk memastikan bahwa terapi yang dikembangkan memiliki validitas ilmiah yang memadai sebelum diadopsi secara luas.

Kalbe Farma dan Ekosistem Precision Medicine

PT Kalbe Farma Tbk melalui anak usahanya PT Bifarma Adiluhung – Regenic Stem Cell, terus memperkuat ekosistem precision medicine dan terapi sel. Pada Agustus 2026, Kalbe menyelenggarakan Dr. Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series (DBSDLS) 2026 dengan tema “Where Science Meets Purpose, Growth, and Hope: The Next Chapter of Precision Medicine & Cell Therapy”, yang dihadiri lebih dari 200 dokter, peneliti, akademisi, dan pemangku kepentingan kesehatan.

Presiden Direktur PT Bifarma Adiluhung, Dr. Sandy Qlintang, menekankan bahwa kemajuan precision medicine dan terapi sel harus diiringi dengan ekosistem yang siap memastikan inovasi dapat diimplementasikan secara aman dan berkelanjutan. “Kami tidak hanya membahas teknologi, tetapi juga bukti ilmiah, kesiapan infrastruktur, fasilitas produksi bersertifikat CPOB, regulasi, fasilitas kesehatan, dan tantangan implementasinya,” jelasnya.

Regulasi Adaptif sebagai Fondasi

BPOM telah menerbitkan Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2025 tentang Pedoman Penilaian Produk Terapi Advanced, yang mengatur berbagai aspek penting mulai dari proses pembuatan, pengujian mutu, hingga evaluasi klinik dan manajemen risiko. Selain itu, Peraturan BPOM Nomor 24 Tahun 2025 tentang Persetujuan Pengembangan Obat Baru memberikan jalur regulasi khusus di setiap tahap pengembangan produk.

Urgensi pengembangan inovasi ini semakin meningkat seiring dengan beban kanker yang terus bertambah. Data Global Cancer Observatory dari International Agency for Research on Cancer (IARC) mencatat sekitar 408.661 kasus kanker baru dan 242.099 kematian terkait kanker di Indonesia pada 2022. Pemerintah memperkirakan tanpa perubahan strategis, beban kasus dan kematian akibat kanker di Indonesia dapat meningkat sekitar 63 persen antara 2025 dan 2040.

Dengan ekosistem yang semakin matang—didukung regulasi adaptif, kolaborasi lintas sektor, dan investasi dalam infrastruktur produksi—Indonesia memiliki peluang nyata untuk menjadi pusat pengembangan terapi regeneratif di Asia Pasifik. Kuncinya adalah konsistensi dalam membangun fondasi ilmiah, regulasi, dan sumber daya manusia yang terdidik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *