Angka yang Bicara: Proyeksi Pasar Open Finance
Data terbaru dari riset pasar internasional menunjukkan bahwa Indonesia Open Banking Market diproyeksikan melesat dari USD 5,6 miliar pada 2025 menjadi USD 19,2 miliar pada 2031, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 23,1%. Proyeksi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar Open Finance paling dinamis di Asia Tenggara, sejajar dengan Malaysia dan Singapura yang lebih dulu mengadopsi kerangka serupa.
Angka ini bukan sekadar proyeksi optimistis tanpa dasar. Pertumbuhan tersebut didorong oleh tiga faktor utama: percepatan digitalisasi layanan keuangan pasca-pandemi, dukungan regulasi yang semakin matang, serta perubahan perilaku konsumen yang semakin nyaman dengan transaksi digital. Hingga Agustus 2026, transaksi melalui Standar Nasional Open API Pembayaran (SNAP) mencapai 2,69 miliar transaksi, tumbuh 67,16% secara tahunan. Ini adalah indikator kuat bahwa infrastruktur berbagi data keuangan telah digunakan secara luas.
Infrastruktur SNAP sebagai Fondasi Open Finance
SNAP BI bukan hanya standar teknis. Ia adalah tulang punggung interkoneksi antara bank, fintech, dan penyedia jasa pembayaran. Dengan SNAP, perpindahan dana antar-platform, akses informasi rekening, dan verifikasi transaksi dapat dilakukan secara real-time dengan standar keamanan yang seragam. Bank Indonesia mencatat bahwa SNAP terus diperluas untuk mendukung interkoneksi layanan perbankan digital antara bank dan fintech.
Ke depan, OJK sedang menyusun standar Open API yang komplementer dengan SNAP, mencakup domain non-pembayaran seperti pinjaman, kekayaan, dan asuransi. Jika berhasil, Indonesia akan memiliki kerangka Open Finance yang utuh—sesuatu yang belum dimiliki banyak negara berkembang.
Siapa yang Paling Diuntungkan?
Pertama, fintech dan penyedia layanan pihak ketiga. Dengan akses terstandarisasi ke data keuangan nasabah (tentu dengan persetujuan), fintech dapat mengembangkan produk yang lebih presisi: kredit scoring yang lebih akurat, robo-advisor yang memahami profil risiko secara mendalam, hingga asuransi on-demand yang terintegrasi dalam aplikasi e-commerce.
Kedua, bank yang adaptif. Bank seperti BNI telah membuktikan bahwa Open Banking API bukan ancaman, melainkan peluang. Melalui BNIdirect Bisnis dan Open Banking API, BNI bertransformasi dari penyedia produk menjadi penghubung ekosistem transaksi korporasi, UKM, dan ritel. Konsep Banking as a Service memungkinkan layanan perbankan hadir langsung dalam aktivitas bisnis pelanggan, tanpa harus berpindah kanal.
Ketiga, konsumen dan UMKM. Inklusi keuangan menjadi lebih inklusif ketika data alternatif—seperti riwayat transaksi digital—dapat digunakan untuk menilai kelayakan kredit. UMKM yang sebelumnya tidak memiliki akses ke pembiayaan formal kini memiliki jalur baru menuju layanan keuangan yang lebih adil.
Tantangan: Literasi Digital dan Kepercayaan
Namun, pertumbuhan pasar tidak otomatis berarti inklusi yang merata. Tantangan terbesar bukanlah teknologi, melainkan kepercayaan. Survei OJK menunjukkan indeks inklusi keuangan Indonesia mencapai 55,82%, namun serangan phishing masih menjadi ancaman serius dengan tingkat insiden 33,6%. Tanpa edukasi yang memadai tentang hak atas data pribadi dan mekanisme persetujuan yang jelas, adopsi Open Finance berisiko menimbulkan resistensi.
Sumber Data Valid 2026: Proyeksi pasar Open Banking Indonesia hingga 2031 dirilis oleh Mobility Foresights pada Agustus 2025 dan diperbarui dalam laporan industri 2026.




