Di sebuah gang sempit di kawasan Jalan Kandea, Makassar, Dewi Sulastri setiap hari memproduksi 800 hingga 1.000 biji jalangkote dan 200 biji bikang doang. Omzet hariannya mencapai Rp2–3 juta. Yang membedakannya dari pedagang tradisional lain: Dewi menggunakan AI untuk mengelola penjualannya.
Dari WhatsApp ke Otomatisasi Penuh
Dewi memanfaatkan layanan WhatsApp Business AI Assistant. Fitur ini memungkinkannya memprediksi permintaan (AI Forecasting), mengelola pesanan otomatis, memberikan rekomendasi paket menu, hingga menjalankan customer service otomatis via chatbot.
Hasilnya? AI mengelompokkan pesanan berdasarkan jam pengantaran dan lokasi, sehingga Dewi dapat mengatur rute pengiriman dengan mobilnya secara efisien. Ini bukan sekadar efisiensi—ini adalah transformasi cara berjualan.
Gelombang Inovasi Lokal
Fenomena serupa muncul dari komunitas pemuda di Makassar. Mereka mengembangkan Bisachat AI, aplikasi yang membalas pesan secara otomatis untuk mendukung peningkatan penjualan UMKM. “Banyak chat yang tidak terbalas atau terlambat direspons, padahal itu berpotensi menjadi transaksi,” ujar Business Consultant Bisachat AI, Nurhaliza A. Arief.
Bisachat AI menyasar masalah fundamental: lonjakan penggunaan WhatsApp sebagai kanal bisnis utama sering tidak diimbangi kapasitas sumber daya manusia.
Dampak Terukur dari Agen AI
Data dari implementasi Meta Business Agent di Indonesia menunjukkan angka konkret. Mastung mencatat kenaikan penjualan sebesar 65,4 persen, sementara Queensi mampu menangani 250 persen lebih banyak percakapan tanpa penambahan karyawan, serta meningkatkan upselling pada 60 persen pelanggan.
Angka-angka ini penting karena membuktikan bahwa otomatisasi penjualan berbasis AI bukan sekadar efisiensi biaya—ia berdampak langsung pada pendapatan.
Bagaimana UMKM Bisa Memulai?
Langkah paling praktis adalah mengaktifkan Meta Business Agent melalui aplikasi WhatsApp Business. Agen AI ini dapat dilatih untuk menjawab pertanyaan spesifik, merekomendasikan produk dari katalog, menjadwalkan janji, hingga membantu menyelesaikan penjualan.
Sekitar 71 persen pengguna WhatsApp di Indonesia tercatat mengirim pesan kepada bisnis setiap hari. Artinya, kanal ini sudah menjadi etalase utama. Mengabaikan otomatisasi di kanal yang paling ramai dikunjungi pelanggan sama dengan membiarkan peluang transaksi menguap begitu saja.




