Realisasi investasi asing di sektor perbankan Indonesia pada paruh pertama 2026 mencatatkan angka yang cukup solid. Badan Koordinasi Penanaman Modal mencatat aliran modal asing ke sektor jasa keuangan dan perbankan mencapai 2,3 miliar dolar AS, tumbuh 18 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Angka ini menempatkan sektor perbankan sebagai salah satu penerima investasi asing terbesar di luar sektor pertambangan dan manufaktur.
Realisasi Investasi Asing di Sektor Perbankan
Menurut siaran resmi BKPM yang dirilis pada Juli 2026, peningkatan realisasi investasi asing di sektor perbankan didorong oleh ekspansi bank asing yang sudah beroperasi di Indonesia, akuisisi bank lokal, dan penambahan modal pada bank digital. Data tersebut dapat dilihat pada BKPM – Realisasi Investasi Perbankan 2026.
Dari sisi jumlah proyek, terdapat peningkatan pada sektor pembiayaan berkelanjutan, infrastruktur, dan kredit ritel. Para investor tidak hanya menempatkan dana pada bank besar, tetapi juga pada bank menengah yang memiliki ceruk pasar kuat di daerah.
Negara Asal dan Alokasi Dana
Singapura masih menjadi negara asal investasi terbesar di sektor perbankan Indonesia. DBS, UOB, dan Sea Group merupakan tiga investor utama asal Singapura yang aktif menambah modal atau memperluas layanan. Jepang menyusul melalui Mitsubishi UFJ Financial Group yang memperkuat posisi di Bank Danamon dan Sumitomo Mitsui Financial Group yang mengendalikan Bank BTPN.
Malaysia juga mencatatkan aliran modal signifikan melalui CIMB Group di Bank CIMB Niaga. Sementara itu, investor asal Tiongkok mulai masuk melalui akuisisi dan pengembangan bank digital. Alokasi dana terbesar digunakan untuk peningkatan modal inti, pengembangan teknologi perbankan, dan perluasan kredit ke segmen UMKM.
Faktor Pendorong Aliran Modal
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di kisaran 5,1 persen menjadi daya tarik utama. Reformasi regulasi oleh OJK juga memberikan kepastian hukum bagi investor asing. Aturan kepemilikan asing di bank umum yang memungkinkan hingga 99 persen memberikan ruang bagi investor strategis untuk memegang kendali penuh.
Selain itu, program hilirisasi dan transisi energi membuka peluang pembiayaan besar yang membutuhkan peran perbankan. Bank asing melihat ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan portofolio kredit korporasi dan pembiayaan proyek infrastruktur. Dengan kondisi suku bunga global yang mulai melandai, biaya modal menjadi lebih murah sehingga mendorong ekspansi.




