Peringkat yang Tidak Berpihak pada Ketahanan
World Bank menempatkan Indonesia di peringkat 63 dunia dalam Logistics Performance Index (LPI), jauh di bawah Singapura (1), Malaysia (31), Thailand (37), Filipina (47), dan Vietnam (50). Peringkat ini bukan sekadar angka; ia mencerminkan seberapa cepat barang bergerak ketika guncangan geopolitik menghantam.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti biaya logistik yang mencapai 23 persen PDB. Pemerintah menargetkan penurunan dari 14 persen menjadi 12,5 persen PDB pada 2029. Target itu ambisius, tetapi eksekusinya berjalan di tengah volatilitas kurs dan energi.
Kurs dan Minyak sebagai Pengganda Beban
Sepanjang kuartal I 2026, harga minyak Brent sempat melonjak 93 persen sebelum terkoreksi. Kurs dolar AS terhadap rupiah menyentuh Rp18.234, dari Rp16.750 pada 26 Februari 2026. Bagi perusahaan dengan kewajiban 1 juta dolar AS, pergeseran kurs itu menambah kebutuhan dana hingga sekitar Rp1,484 miliar.
Presiden Direktur CKB Logistics Iman Sjafei menyatakan ketegangan geopolitik telah menciptakan hambatan nyata pada jalur perdagangan dan arus barang. Direktur Logistik dan Distribusi CKB Logistics Ety Puspitasari menambahkan paradigma rantai pasok harus bergeser dari sekadar efisiensi biaya menjadi ketahanan operasional.
AEO sebagai Infrastruktur Kepatuhan
Hingga 31 Mei 2026, 210 perusahaan memperoleh status Authorized Economic Operator (AEO), terdiri atas 183 eksportir-importir dan 27 penyedia jasa logistik. Rata-rata waktu customs clearance MITA-AEO di Tanjung Priok pada 2025 tercatat 3,6 jam, jauh lebih cepat daripada rata-rata importir 8 jam.
Founder Supply Chain Indonesia Setijadi menegaskan rantai pasok tangguh bukan yang tidak pernah terganggu, melainkan yang mampu mendeteksi risiko lebih awal dan pulih lebih cepat. Lima pilar yang ia sebut—tata kelola risiko, visibilitas, fleksibilitas, kolaborasi, dan perbaikan berkelanjutan—menjadi kerangka kerja yang bisa diadopsi korporasi.
Kolaborasi sebagai Jalan Keluar
CKB Logistics menggelar forum bertema “Resilient Supply Chain” dengan pesan bahwa kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk memitigasi risiko dan memastikan distribusi tetap berjalan. Ketahanan logistik tidak dibangun oleh satu perusahaan, melainkan oleh jaringan yang saling terhubung.





