Indonesia adalah negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan 280 juta penduduk. Setiap hari, jutaan ton barang bergerak melintasi laut, sungai, dan darat. Namun, selama puluhan tahun, rantai pasok nasional bekerja dengan cara yang sangat tidak efisien. Sebuah kontainer dari Surabaya ke Makassar bisa melewati lima pihak berbeda, masing-masing dengan sistem manual, telepon, dan dokumen fisik. Di sinilah startup logistik maritim memainkan peran yang semakin vital.
Salah satu nama yang paling menonjol adalah Waresix. Didirikan pada 2017 oleh Andree Susanto dan Edwin Wibowo, platform ini menghubungkan pengirim barang dengan gudang dan truk yang tersedia. Layanan mereka mencakup transportasi darat dan laut, penyimpanan dingin, serta penanganan kargo umum. Hingga Agustus 2026, Waresix telah mengumpulkan pendanaan sekitar US$197 juta sejak berdiri, dengan putaran terbaru senilai US$27,4 juta dari investor lama seperti Granite Asia, Jungle, dan East Ventures.
Sementara Waresix fokus pada integrasi gudang dan transportasi, Kargo Technologies mengambil pendekatan berbeda. Didirikan pada 2018 oleh Tiger Fang dan Yodi Aditya, Kargo membangun jaringan logistik berbasis AI yang menghubungkan pabrik hingga konsumen di Asia Tenggara dan Timur Tengah. Yang menarik, Kargo tidak hanya mendigitalisasi proses pengiriman, tetapi juga menargetkan elektrifikasi 40.000 armada logistik pada 2035. Pada 2026, mereka menargetkan mengoperasikan 2.500 kendaraan listrik sebagai bagian dari visi jangka panjang menuju jalur perdagangan yang lebih bersih.
Ini bukan sekadar gimmick lingkungan. Biaya bahan bakar adalah salah satu komponen terbesar dalam logistik darat. Dengan beralih ke EV, Kargo tidak hanya mengurangi emisi tetapi juga menekan biaya operasional jangka panjang. Dalam konteks Indonesia, di mana harga BBM terus berfluktuasi dan biaya logistik masih membebani industri, langkah ini patut dicatat.
Ada satu area yang sering luput dari perhatian: perjalanan kontainer dari terminal pelabuhan ke depo atau gudang. Proses ini melibatkan koordinasi antara operator terminal, penyedia truk, depo, dan bea cukai. Envilog, sebuah platform logistik digital yang didirikan pada 2020, hadir untuk mendigitalisasi seluruh perjalanan kontainer ini. Pada Maret 2025, GL Terminal mengakuisisi 30% saham Envilog untuk mempercepat integrasi ini. Envilog menyediakan serangkaian alat digital: Envi-Customs untuk deklarasi bea cukai, Envi-Truck untuk pemesanan truk, Envi-Port untuk akses pelabuhan, Envi-Depot untuk manajemen depo, dan Envi-Bonded untuk zona berikat. Platform ini terintegrasi langsung dengan sistem Ceisa 4.0 milik Bea Cukai dan saat ini terhubung ke lima terminal pelabuhan utama di Jakarta. Yanti Agustinova, Founder dan CEO Envilog, menegaskan bahwa tujuannya adalah mendigitalisasi perjalanan kontainer dari ujung ke ujung, dari bea cukai hingga aliran terminal dan depo.
Data dari penelitian di Garuda Kemdiktisaintek menunjukkan bahwa biaya logistik Indonesia masih sekitar 23% dari PDB, jauh lebih tinggi dibandingkan negara maju yang berkisar 8–12%. Salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya pemanfaatan teknologi digital yang dapat mempercepat dan mempermudah proses rantai pasok. Startup seperti Waresix, Kargo, dan Envilog hadir untuk mengisi celah itu.
Namun, tantangan tetap besar. Investasi awal untuk teknologi tidak murah, infrastruktur digital di wilayah timur Indonesia masih terbatas, dan resistensi terhadap perubahan masih kuat di beberapa kalangan. Meski demikian, dengan dukungan investor dan pemerintah, ekosistem startup logistik maritim Indonesia sedang berada di titik kritis yang bisa menentukan arah industri ini selama satu dekade ke depan.
Informasi pendanaan Waresix dapat diakses melalui laporan DealStreetAsia (4 Agustus 2026), sementara profil Envilog tersedia di Hellenic Shipping News.





